JP.Jum'at, 01 Januari 2010
BAMBANG Sujanto mengatakan punya banyak kenangan bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dia mengenal Gus Dur sebagai orang yang sederhana. ''Walau telah menjadi presiden, Gus Dur tetap seperti yang sebelumnya saya kenal. Tidak berubah sama sekali,'' ucap Bambang yang kemarin berziarah ke makam Gus Dur.
Perkenalan Bambang dengan Gus Dur berawal saat Gus Dur hendak menjadi ketua umum PB NU pada 1984. Saat itu, Bambang menjadi ketua PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) Jatim. Gus Dur memanggil Bambang ke sebuah desa di Kecamatan Gedek, Mojokerto.
''Saat itu Gus Dur memanggil saya, 'Kamu Bambang ya'? Saya pun menjawab, ya Gus. 'Mbang, teruskan PITI, tetap perjuangkan. Kalau kamu membutuhkan bantuanku, aku selalu siap'. Itulah awal saya kenal Gus Dur, lalu menjadi sahabat,'' terang salah seorang pendiri Masjid Muhammad Cheng Hoo itu.
Setelah perkenalan singkat tersebut, setiap ke Surabaya Gus Dur menelepon Bambang dan tak jarang tidur di rumahnya. ''Gus Dur selalu menginap di rumah saya dan tidak mau dilayani siapa-siapa. Beliau seperti saudara saya dan kakak saya sendiri,'' kenangnya.
Bambang pun menyediakan kamar khusus untuk Gus Dur di rumahnya. ''Ruangan untuk Gus Dur bersantai dan menjalankan ibadah,'' tambahnya.
Karena banyaknya tamu yang ingin bertemu dengan Gus Dur, tak jarang Bambang terpaksa menyeleksi mereka. Tujuannya agar Gus Dur merasa nyaman setelah malakukan aktivitas yang sangat padat. Meskipun, Gus Dur sendiri sebenarnya akan melayani siapa pun tamu yang datang. ''Beliau tidak pilih-pilih siapa tamunya. Beliau sangat dekat dengan semua kalangan dan rakyat Indonesia. Itulah hebatnya sosok Gus Dur,'' terang Bambang sambil matanya menerawang.
Selama tinggal di rumah Bambang, Gus Dur paling suka makan burung dara dan tami ayam. ''Dua masakan itu yang disukainya, tidak mau lain-lain. Tapi, saya tetap berkonsultasi dengan dokter kesehatan Gus Dur, yang kala itu belum menjadi presiden Indonesia,'' kenang Bambang.
Momen yang paling tidak bisa dilupakan Bambang adalah ketika Gus Dur membereskan masalah pribadi Bambang. ''Saat itu Mama saya yang beragama Buddha meninggal. Hampir semua orang muslim Tionghoa seolah menentang saya yang menghormati Mama saya itu karena saya seorang haji. Saat itu ketua NU Jatim, ketua Muhammadiyah juga hadir menghormati jenazah Mama saya. Tidak disangka, Gus Dur datang dan berdoa di depan jenazah Mama disaksikan semua yang hadir,'' terang Bambang.
Gus Dur lantas berbicara kepada semua bahwa dirinya mendoakan ibunda Bambang Sujanto untuk semua muslim yang hadir, juga untuk anak-anak yang ditinggalkan almarhumah agar diberi kekuatan. ''Soal diterima atau tidak doa saya sama Tuhan Yang Maha Esa, wallahu a'lam. Bambang saya anggap saudara kandung saya. Maka, Mamanya juga Mama saya,'' ucap Gus Dur kala itu.
Bambang mengagumi Gus Dur sebagai sosok yang mirip Laksamana Cheng Hoo. ''Cheng Hoo juga terkenal sebagai seorang yang plural. Pada saat anak buah kapalnya bertengkar masalah agama, beliau langsung menengahi,'' ungkap Bambang. (gun/nw)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar