Jumat, 01 Januari 2010

Belajar Cara Lari dari RS

JP.Jum'at, 01 Januari 2010

SEMARANG - Kabar meninggalnya Gus Dur sangat mengejutkan sahabat dekatnya, Jaya Suprana. Bos Jamu Jago itu tidak mengira, sosok yang telah dianggap sebagai seorang kakak itu cepat berpulang. "Beliau sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Saya banyak belajar tentang Islam, toleransi beragama, humanisme, dan keadilan dari Gus Dur," kata Jaya kepada Radar Semarang (Jawa Pos Group) tadi malam.

Pendiri Muri (Museum Rekor Indonesia) itu mengatakan punya banyak kisah seputar hubungannya dengan Gus Dur. "Kalau diceritakan satu per satu, bisa menjadi buku yang sangat tebal."

Salah satu kenangan indah yang akan terus diingat Jaya adalah kedatangan Gus Dur dalam acara Pergelaran Musik 60 Tahun Jaya Suprana di Lembaga Kebudayaan Belanda Erasmus Huis pada 10 Oktober lalu. Saat itu, cerita Jaya, Gus Dur sebenarnya masih menjalani perawatan di rumah sakit di Jakarta. "Tapi, beliau melarikan diri dari rumah sakit, terbang ke Semarang, hanya untuk mendengarkan karya saya," jelas Jaya.

Rupanya, Gus Dur memilih melarikan diri dari rumah sakit karena tahu acara ter­sebut salah satu di antaranya dipersem­bahkan Jaya untuk dia. Jaya telah menyiapkan komposisi musik yang khusus dipersembahkan kepada Gus Dur, yakni berjudul Tafakur Tombo Ati. "Manuskrip asli komposisi ini saya persembahkan untuk beliau," lanjutnya.

Pertemuan terakhir Jaya dengan Gus Dur berlangsung saat Jaya menghadiri pernikahan putri Gus Dur Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid pada 15 Oktober lalu. Saat itu Jaya sempat bertanya kepada Gus Dur, selesai resepsi pernikahan akan pulang ke mana. Salah seorang ajudan Gus Dur menjawab bahwa beliau akan pulang ke Ciganjur. Tapi, buru-buru Gus Dur menyela. "Gus Dur berbisik bahwa dia akan pulang ke rumah sakit. Beliau memang suka bercanda," kenangnya.

Di mata Jaya, selain humoris, Gus Dur dikenal sebagai pribadi yang sering menentang arus. Soal itu Jaya punya cerita. Saat itu, ketika menjadi presiden, Gus Dur diminta oleh dokter kepresidenan untuk tidak sembarang mengonsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan.

Tapi, Gus Dur punya cara untuk menyiasati larangan dari dokter kepresidenan itu. Yakni, mengundang Jaya ke istana dengan membawa makanan-makanan favoritnya yang tak boleh dikonsumsi Gus Dur. "Jadi saya juga belajar dari Gus Dur bagaimana menyelundupkan makanan ke istana dan bagaimana melarikan diri dari rumah sakit," katanya, lantas terkekeh.

Sementar itu, Wimar Witoelar termasuk salah seorang sahabat yang masih tidak menduga Abdurrahman Wahid alias Gus Dur akan pergi secepat ini. Mantan juru bicara presiden tersebut masih tampak terpukul atas meninggalnya sahabat sekaligus mantan atasannya itu.

Wimar yang duduk di kursi roda terus memandangi haru jenazah Gus Dur yang akan diberangkatkan dari ru­­mah duka di Ciganjur, Jakarta Se­latan, ke Jombang kemarin. "Saya ke­ha­bisan kata-kata," ujar Wimar se­­usai upacara pelepasan jenazah di ru­mah duka kemarin pagi.

Dia hanya mengungkapkan, sejak me­ngenal hingga dekat dengan Gus Dur, banyak pelajaran yang telah didapatnya. "Bersama Gus Dur saya ikut mengalami lompatan intelektualitas dan lompatan kearifan sebagai manusia," katanya, sam­bil menarik napas panjang.

Menurut dia, Gus Dur telah memberi­kan pelajaran penting tentang kunci kebahagiaan hidup. Bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan itu sesungguhnya berada dalam kendali diri kita sendiri. "Dan Gus Dur memilih cara, mengalirkan se­galanya seperti air melewati batu, me­ngem­buskannya seperti angin melewati gunung," kata Wimar.

Bagaimana awalnya bisa dekat dengan Gus Dur? Wimar menyatakan, secara prin­sip, presiden keempat RI itu me­rupakan sosok yang bisa mu­dah dekat dengan semua orang. Dia tidak me­lihat status, ras, etnis, dan latar belakang lain. "Pandangannya sebagai pribadi jauh lebih luas bila dibandingkan dengan sisi dirinya sebagai politikus atau pejabat. Bagi saya, Gus Dur itu orang yang besar dalam konteks kehidupan publik," ujarnya. (ton/noe/dyn/jpnn/agm)

Tidak ada komentar: