Minggu, 21 November 2010

Orgasme Payudara Bisa Memberikan Wanita Orgasme Luar Biasa

Orgasme Payudara bukan hal baru. Perempuan telah melaporkan bahwa mereka dapat memiliki jenis orgasme ini selama ribuan tahun. Ada beberapa teknik yang telah terbukti berhasil. Pertama, Anda harus bertanya pada wanita Anda bagaimana perasaannya tentang orgasme payudara.

Tanyakan apakah dia pernah mengalami. Jika dia telah mengalami, tanyakan bagaimana rasanya dan bagaimana hal itu dilakukan. Pengetahuan adalah kekuatan. Anda juga akan memiliki kekuatan untuk membuat dia kembali merasakan pengalaman itu dan bahkan lebih.

Teknik 1 . Menggodanya.
Jika anda tidak pernah menggoda wanita Anda sampai ia tidak dapat tahan – maka anda harus. Dia harus memohon Anda untuk memberinya lebih. Anda bisa menghangatkannya sehari atau beberapa hari sebelum bercinta dengan mengirimkan sms, menelepon, email, atau memberinya catatan kecil. Ini akan membuat dia begitu siap. Ini adalah hubungan emosional yang Anda butuhkan di mana pikirannya mengontrol tubuhnya.

Teknik 2. Melakukan cumbuan dengan baik.
Jika Anda melihat kembali ketika Anda pertama kali bertemu wanita Anda, mungkin Anda ingat saat Anda mencumbunya dengan panas. Mengapa tidak melakukan itu lagi? Jangan terburu-buru untuk menyentuh payudaranya. Percayalah, Anda dapat memberinya beberapa sensasi hebat di payudaranya hanya dengan mencium mulutnya. Jika Anda tidak percaya, tanyakan padanya.

Teknik 3. Tanyakan bagaimana “panasnya” dia.
Banyak pria yang telah memberikan orgasme pada wanita mereka tanpa menyentuh. Perempuan memiliki kekuatan untuk mencapai orgasme tanpa sentuhan. Tanyakan bagaimana panasnya dia. Tanyakan padanya apakah dia basah.

Tanyakan apakah payudaranya terasa penuh dan jika putingnya mengeras. Jika dia menjawab, “ya,” kemudian lanjutkan dan sentuh payudaranya. Jika tidak, maka Anda harus melakukan lebih dari tiga teknik pertama.

Teknik 4. Membelai payudaranya.
Jika dia siap, dan dia memuktikan bahwa dia siap (Anda menggodanya luar biasa) maka Anda lanjutkan dengan memegang payudaranya. Kemudian lembut bermain dengan payudaranya. Kemudian jilati area di sekitar puting. Jangan sentuh putingnya dulu. Dia harus mengerang, dan bergetar. Ringan menyentuh puting susu dengan lidah Anda. Kemudian mundur. Hisap sedikit. Kemudian dengan lembut gigit puting dan tarik sedikit.

Tanyakan padanya bagaimana rasanya. Jika dia bilang dia kejang-kejang dan sangat basah lalu tarik pentilnya dengan mulut Anda. Jika dia sudah siap, kemudian lakukan hisapan kuat ke payudaranya. Mengisap sekeras mungkin tanpa menyakitinya. Melahap payudara dan menyedot sebanyak yang Anda bisa.
Lakukan ini sampai dia orgasme. Source

Inilah Dampak Negatif Terlalu Sering ML

ADA sebagian orang yang memiliki nafsu seksual sangat besar sehingga disebut hypersex. Umumnya, seorang hypersex terlalu berlebihan ketika bersanggama.

Mengulik lebih dalam dampak negatif terlalu sering bersanggama, berikut penjelasan yang wajib Anda simak dari buku "Arabic Kamasutra" karya Muhammad al-Baz.

Memaksakan diri untuk melakukan sanggama dapat memadamkan hasrat yang bersifat alami. Dengan begitu, organ-organ tubuh yang alami akan menjadi lemah, semangat menurun gerakan tubuh berkurang, perut menjadi besar dan hati melemah, serta proses pencernaan di dalam tubuh menjadi tidak baik.

Sel darah menjadi rusak, urat-urat menjadi lemah, proses penuaan menjadi lebih cepat, keceriaan dan kewibawaan wajah menghilang, pandangan mata melemah, rambut menjadi tipis dan mudah rontok. Bahkan, dapat menimbulkan kebotakan dan menyebabkan darah jadi beku.

Terlalu sering melakukan sanggama juga dapat membahayakan urat syaraf, menimbulkan gemetar dan gerakan yang lemah, membahayakan dada dan paru-paru, serta membuat buah pinggang menjadi kurus. Bahaya yang paling besar akan menimpa orang-orang yang memiliki tubuh kurus kering.

Terlalu sering melakukan sanggama akan mempercepat proses penuaan yang terjadi di dalam tubuh mereka. Apalagi mereka yang memiliki urat-urat yang tampak (terlihat dari kulit bagian luarnya) dan darah yang sedikit.

Sementara itu, tubuh-tubuh yang basah, yang memiliki urat-urat yang lemah, memiliki sedikit darah dan berhawa dingin, lebih jauh dari proses penuaan dan pengeringan.

Orang-orang yang memiliki tubuh yang berhawa panas, yang memiliki urat-urat yang kering, besar dan penuh dan yang memiliki banyak darah adalah orang-orang yang mampu untuk sering melakukan sanggama dan jarang terkena bahayanya.

Namun, bila mereka tidak melakukan senggama dapat menimbulkan berbagai penyakit yang buruk seperti pening, sakit kepala, menurunnya nafsu seksual, keletihan, bahkan dapat menimbulkan pembengkakan pada batang dan "bola" Mr P.

Mereka yang bertubuh kurus bisa dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu:

1. Bertubuh kurus, berkulit lembut, berwarna merah putih agak kehitaman atau agak sedikit dan kental. Nafsu seksual mereka juga tidak besar. Tubuh-tubuh mereka berhawa dingin dan kering. Sanggama merupakan bahaya yang sangat besar bagi mereka.

2. Bertubuh kurus, memiliki kulit berwarna kemerah-merahan dan kehitaman, memiliki urat-urat yang besar, memiliki banyak darah, serta memiliki urat syaraf dan tulang-tulang rawan yang kasar. Air mani mereka sedikit dan kental.

Nafsu seksual mereka sangat besar. Tubuh-tubuh mereka berhawa panas dan kering. Tubuh mereka ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Kulit mereka keras dan kasar. Bahayanya senggama bagi mereka adalah sesuai dengan besarnya urat-urat mereka, banyaknya darah mereka dan sesuai dengan pertumbuhan mereka. Source

Senin, 08 Februari 2010

A. Mustofa Bisri: Fenomena Gus Dur

KETIKA presiden ke-35 Amerika Serikat John F. Kennedy atau JFK (1917-1963 M) yang nasibnya banyak mirip dengan presiden pendahulunya, Abraham Lincoln, meninggal terbunuh pada 22 November 1963, dunia ikut berduka. Maklum, JFK merupakan presiden negara adikuasa. Dia juga dikenal sebagai presiden Amerika yang berani, mempunyai pandangan ke depan, dan menjanjikan perubahan dunia. Namun, meski saat pemakamannya banyak sekali yang hadir, masih terhitung tidak seberapa bila dibandingkan dengan saat pemakaman Presiden Republik Mesir Gamal Abdel Nasser (1918-1970).

Presiden bertubuh raksasa yang mengaku 'murid'-nya presiden kita Bung Karno itu benar-benar orang yang "tahu saat harus meninggal". Setelah pertemuan tingkat tinggi yang membahas berbagai perbedaan pendapat di antara beberapa kepala negara di Kairo, Gamal sebagai tuan rumah mengantar satu per satu tamu-tamunya kembali ke negara masing-masing. Saya masih ingat, yang terakhir diantar ke bandara ialah Amir Shabah dari Kuwait. Setelah itu radio dan TV Mesir berhenti menyiarkan berita.

Semua hanya menyiarkan bacaan Alquran. Ternyata presiden yang dianggap paling berjasa mendamaikan Raja Husein dari Jordan dengan Raja Faisal dari Arab Saudi dan Yasser Arafat dari Palestina itu dipanggil ke rahmatullah setelah pulang dari bandara mengantarkan Amir Sabah. Besoknya, kepala-kepala negara yang dilepas Gamal sebelumnya itu berdatangan kembali. Kali ini untuk memberikan penghormatan terakhir kepada presiden yang mereka hormati itu.

Maka pada waktu itu dunia -termasuk saya yang langsung- menyaksikan pemakaman paling akbar dalam sejarah modern. The Guinness Book of Records memperkirakan pelayat Presiden Gamal Abdel Nasser mencapai 4 juta dan menetapkan sebagai pemakaman dengan pelayat terbesar.

Presiden pertama kita Bung Karno, andai tidak dizalimi oleh pemerintah Orde Baru yang menggantikannya, mungkin pemakamannya tidak kalah akbar daripada pemakaman 'murid'-nya dari Mesir itu. Kepopuleran Bung Karno di dunia tidak kalah dari Gamal. Hanya, Gamal pada saat wafat sedang berada dalam puncak kepopuleran. Kalau di negerinya sendiri, Bung Karno waktu itu kurang dihargai. Pemakamannya hanya ala kadarnya. Sedangkan Gamal di Mesir -yang saya tahu- sangat dihormati oleh pemimpin-pemimpin Mesir dan dicintai rakyatnya. Mesir berkabung tujuh hari atas kemangkatan Bung Karno. Beberapa media massa menulis tentang presiden pertama kita itu, seingat saya, sampai 15 hari.

Waba'du, presiden kita keempat, Gus Dur alias KH Dr Abdurrahman Wahid Ad-Dakhil (1940-2009) sudah '40 hari' meninggalkan kita. Presiden yang pengaturan pemakamannya jadi 'rebutan' antara keluarga dan protokol negara itu, dilepas menuju ke haribaan Tuhannya oleh presiden, petinggi-petinggi negara, para kiai, dan ratusan ribu warga masyarakat. Pers dunia tidak hanya memberitakan kewafatannya, tapi juga menulis pribadi dan keistimewaannya. Majalah kenamaan, The Economics, bahkan menceritakan kembali joke-joke Gus Dur yang menertawakan diri sendiri.

Seolah-olah orang tidak puas memberikan penghormatan terakhir kepada Gus Dur saat dimakamkan, berbagai kelompok masyarakat mengadakan acara-acara khusus untuk mengenang presiden yang dimakzulkan oleh para politisi -yang dulu mendukung pengangkatannya- itu. Ada Seribu Lilin untuk Gus Dur. Ada berdoa bersama untuk Gus Dur yang diikuti pimpinan berbagai agama dan kepercayaan. Ada beberapa komunitas etnis dan agama yang masing-masing menyelenggarakan acara khusus untuk menghormati almarhum. Di makamnya sendiri di Tebuireng, setiap hari hingga kini rombongan masyarakat dari berbagai pelosok tanah air, bahkan juga dari luar negeri, masih terus berdatangan.

Khusus dalam rangka 40 hari wafat presiden rakyat itu, acara-acara mengenang kiai unik tersebut digelar di mana-mana. Dalam rangka itu, saya sendiri mendapat undangan tidak kurang dari sembilan panitia dari berbagai kota di tanah air. Tidak hanya berbentuk doa bersama atau tahlilan dan pengajian, tapi ada pula yang dikemas dalam acara seminar, orasi budaya, kesenian, tirakatan, dan sebagainya. Seniman serbabisa Slamet Gundono malah menyelenggarakan acara budaya sehari semalam di Solo dengan tidak ketinggalan menggelar lakon Kuncung Semar. Studio Mendut Magelang berencana mengadakan pameran patung Gus Dur. Masyarakat Pati lain lagi, rencananya mengadakan pawai keliling sebelum acara puncak di alun-alun Pati.

Melihat fenomena itu, sampai ada kiai sepuh yang menyatakan bahwa mulai Nabi Adam belum pernah ada manusia yang diperlakukan seperti Gus Dur. Menurut saya, fenomena ini tidak hanya patut masuk Muri-nya Jaya Suprana, tapi sangat layak masuk Guinness Book of Records.

Demikianlah, karena Gus Dur menghargai keberagaman, dia pun dihargai oleh berbagai ragam manusia, terutama yang menerima keberagaman, meskipun pasti ada -terutama dari kalangan mereka yang tidak menyukai keberagaman- yang tidak menghargai bahkan merendahkannya. Dan akan hal ini Gus Dur pun maklum belaka.

Hanya ini yang bisa saya tuliskan dalam rangka peringatan 40 hari wafat Gus Dur.
Dalam buku-buku saya, saya sudah sering membicarakan Gus Dur. Bahkan, ada buku saya yang khusus mengenai cucu pendiri-pendiri NU ini. Kalau masih kurang, di toko-toko buku ada ratusan buku tentang manusia yang mencintai sesamanya ini.(*)

JP.Senin, 08 Februari 2010

Rabu, 06 Januari 2010

Pak Polisi dan Gus Dur yang Bisa Salah Paham

CATATAN AS HIKAM
Jakarta, RMOL. Siapa bilang Gus Dur gak bisa salah paham? Namanya manusia biasa, pasti satu saat hal itu terjadi. Bedanya, kalau umumnya orang salah paham terus marah atau jengkel dan menjengkelkan, kalau GD malah jadi lucu.

Ini informasi A-1 karena yang cerita ya GD sendiri sama saya (sambil dipijet kakinya di Gedung PB NU yang waktu itu masih reyot):

Pada masa akhir zamannya Pak Harto, para cendekiawan kritis banyak yang dilarang bicara, termasuk dan terutama adalah GD (yang waktu itu sudah jadi ikon gerakan pro-demokrasi). Nah, suatu hari beliau diundang ke Jember oleh anak-anak GMNI yang disponsori Mas Bondan Gunawan. Sudah barang pasti para aparat keamanan di-deploy untuk membuat acara gagal, atau, minimum, kurang lancar. Toh acara tetap jalan dan ceramahnya GD didengar banyak aktivis GMNI dan lain-lain. Begitu selesai, GD diminta panitia cepat-cepat meninggalkan arena karena, konon, Polisi akan masuk dan membubarkan acara. GD dan teman-teman se mobil langsung aja kabur dari lokasi menuju Surabaya.

Masih di dalam kota, mobil GD sudah dibuntuti dua motor gedhe putih milik Polri, walaupun tidak membunyikan nguing-2 (sirine). GD dilapori sopirnya dan beliau minta supaya jalan saja, kalau perlu ngebut! Maka ngebutlah si sopir dan Polisi yang ngebuntutin juga ngebut di belakang. Sampai di luar kota, dua motor Polisi tadi nyalip dan setelah rada jauh, behenti di tengah jalan. Sontak sopir GD juga mengerem mobil, karena khawatir terjadi kecelakaan kalau nabrak. GD marah besar dan buka kaca jendela menunggu kedua "oknum" Polri mendatangi beliau.

"Ada apa?!" GD bertanya dengan suara agak tinggi.

"Assalamu'alaikum Kyai..."kata salah satu dari "oknum" Polisi

"Ya! Ini ada apa, kan saya sudah pergi. Sana pergi kalian..."

GD mencoba mencegah mereka makin dekat

"Begini Kyai..." kata si oknum sampai di kaca jendela (sopir dan dua penumpang di belakang sudah khawatir banget...)

"Begini Kyai, mohon maaf, saya tadi belum sempat salaman sama njenengan, jadi terpaksa saya mengikuti Kyai. Tolong Kyai saya ingin salaman" kata si "oknum" dan keduanya lalu salaman dan cium tangan GD...

"Matur nuwun Kyai, selamat jalan ya.."

Dua polisi tadi cengengesan puas karena "sukses" bisa salaman dg GD!

Tentu saja GD langsung ketawa ngakak begitu mobil jalan lagi, ujarnya (pada saya):

"Ngono kuwi lo, Kang wong NU. Sudah repot-repot disuruh menjaga supaya ceramah saya tidak sukses, eee... ujung-ujungnya pengen salaman..!"

Jadi GD pun bisa salah paham dan mengakhiri dengan ketawa. Memang waktu itu aparat keamanan (intel, tentara, polisi, hansip, satpam dll) suka dikerahkan utk menghalangi beliau. Tapi dasarnya orang NU, kalau tugas sudah selesai, ya cium tangan GD juga. Tugas terlaksana, kepuasan batin tercapai.

Gitu aja kok repot!!

Gus Dur Tolak Fatwa Haram Golput

Jakarta - KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur menolak fatwa haram bagi orang yang tidak menggunakan hak pilih atau golongan putih (golput) yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). "Saya menolak sikap beberapa orang atau yang mengatasnamakan institusi MUI yang mengeluarkan fatwa haram bagi yang tidak memilih dalam Pemilu 2009," kata Gus Dur di Jakarta, Selasa (27/1) seperti dirilis dari Antara.

Gus Dur beralasan, hingga kini Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara Pemilu tidak bekerja dengan baik, bahkan melakukan kecurangan. Contohnya, dalam Pilkada di Jawa Timur jumlah pemilih yang dipanggil semestinya 42 juta orang, tetapi yang dipanggil cuma 15 juta orang sebagaimana diungkap National Democratic Institute (NDI). Menurut Gus Dur, kasus serupa kemungkinan juga akan terjadi dalam Pemilu 2009 karena sosialisasi Pemilu yang dinilainya amburadul. "Jika penyelenggara Pemilu telah ceroboh dalam bekerja, lalu bagaimana nasib demokrasi bangsa kita ke depan?" katanya.

Dengan alasan itulah Gus Dur menegaskan tetap memboikot Pemilu 2009 dengan tidak menggunakan hak pilihnya. "Saya tetap bersikap memboikot Pemilu untuk tidak memilih," kata Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut. Menurut Gus Dur, sikapnya yang memboikot Pemilu merupakan hal yang biasa dalam alam demokrasi yang memungkinkan perbedaan pendapat. "Kita sekarang sedang diuji untuk belajar berdemokrasi. Jadi beda pendapat merupakan hal yang biasa," katanya. (hut)

Gus Dur Jadi Tamu Pertama SBY

Jakarta - Tamu pertama yang bersilahturahmi dengan Presiden SBY dan keluarga pada Idul Fitri 1430H ini sangatlah istimewa. Yaitu mantan Presiden Abdurrahman Wahid beserta istrinya, Ny Sinta Nuriyah.

Menurut protokoler, seharusnya tamu pertama adalah Wapres Jusuf Kalla dan Ny Mufidah Kalla beserta dengan keluarga. Tetapi sesaat menjelang pukul 10.00 WIB, Minggu (20/9), Gus Dur dan Ny Sinta yang keduanya duduk di kursi roda tiba di Istana Negara, Jakarta.

Karena memang belum jadwal untuk menerima tamu, maka Presiden SBY dan Ny Ani belum berada di ruang terima tamu. Tapi begitu mendapat pemberitahuan dari protokoler, mereka langsung bergegas ke lokasi.

Setelah sekitar 10 menit, Gus Dur dan Ny Sinta Nuriyah yang ditemani oleh Yenny Wahid meninggalkan lokasi. Tidak berapa lama setelah itu barulah Wapres Jusuf Kalla dan keluarganya masuk ke Istana Negara. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid datang ke Istana Negara, Jakarta, Minggu, untuk berlebaran dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketika ditanya tentang kondisinya, Gus Dur yang akhir-akhir ini mengalami masalah dengan kesehatannya hanya mengucap pelan, "Sehat."

Raut wajah Gus Dur beserta isteri dan anaknya terlihat segar. Ia mengatakan kedatangannya ke Istana Negara untuk berlebaran dengan Presiden Yudhoyono atas undangan negara. "Saya ini tiga atau empat kali ya (berlebaran di Istana), jadi artinya negara yang bikin acara dan saya datang," akunya.

Sementara itu, Cawapres terpilih Boediono pada Minggu (20/9) pagi, sowan ke rumah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar Jakarta, untuk melakukan silaturahmi Idul Fitri 1430 H. Boediono didampingi istrinya, tiba di rumah capres rival SBY tersebut sekitar pukul 11.00 WIB. Mantan Gubernur Bank Indonesiau (BI ) itu mengenakan batik lengan panjang dengan motif bunga berwarna merah. (din/dtc/ist)

Ho Oh

Jakartapress.com,Minggu, 03/01/2010 | 14:26 WIB

Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. "Apa betul ini Jalan Sudirman?" "Ho oh," jawab si penjual rokok.

Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. "Apa ini Jalan Sudirman?" Polisi menjawab, "Betul."

Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. "Apa ini Jalan Sudirman?" Gus Dur menjawab "Benar."

Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab "Ho oh," lalu tanya polisi dijawab "betul" dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata "benar."

Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, "Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar."

Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, "Jadi Anda ini seorang sarjana?"

Dengan spontan Gus Dur menjawab, "Ho ... oh!" (*)