JP.Kamis, 31 Desember 2009
Catatan: Akhmad Zaini
BEGITU Gus Dur menjadi presiden, saya ditugaskan Jawa Pos untuk ngepos di istana. Sebab, sejak bertugas di Jakarta awal 1999, saya memang senantiasa meliput kegiatan Gus Dur. Saya dianggap dekat dan memahami gaya cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari tersebut. Apalagi, saya punya latar belakang pesantren.
Namun, tugas dari kantor tersebut bukanlah sesuatu yang mudah dilaksanakan. Sebab, regulasi yang ada sebelumnya sangatlah ketat. Di tengah kebingungan itu, saya teringat Ratih Hardjono yang sudah saya kenal baik. Saat itu, mantan jurnalis tersebut menjabat seketaris pribadi Gus Dur. Saya pun menghubungi dia dan menyampaikan persoalan itu. Setelah berkonsultasi dengan Gus Dur, Ratih pun menjanjikan untuk membuat regulasi baru di istana.
Benar, regulasi baru tersebut benar-benar dibuat. Ratih menepati janjinya. Ketika Gus Dur mengumumkan kabinet pada awal pemerintahannya, saya bersama beberapa teman wartawan yang selama ini meliput Gus Dur diundang untuk ikut meliput di istana. Sungguh, itu di luar kelaziman. Karena itu, selama di istana, tatapan aneh Paspampres dan wartawan istana sering saya dapatkan.
Kondisinya menjadi kian "heboh" karena ketika sesi tanya jawab setelah pengumuman kabinet, Ratih memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya. Saat itu, saya bertanya soal kemungkinan Gus Dur melakukan reshuffle kabinet yang oleh Gus Dur dijawab, "Semuanya serbamungkin."
Untuk kebebasan pers -terutama kebebasan mengakses berita di istana-, rasanya gebrakan itulah yang layak dicatat sebagai salah satu tonggak pentingnya. Apalagi, setelah itu Ratih membuat regulasi baru yang mengubah total regulasi sebelumnya. Yakni, semua media diberi kesempatan mengirimkan wartawan untuk meliput di istana.
"Jangankan orang, kambing pun kalau mendapat surat penugasan dari pimpinan redaksi boleh menjadi wartawan istana," seloroh Ratih kala itu.
Dampak kebijakan tersebut, akhirnya istana pun dibanjiri wartawan. Ratusan wartawan mendaftar menjadi wartawan istana.
Namun, dalam perkembangannya, kondisi baru tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan Gus Dur. Berita dari istana begitu liar. Selain terjadi salah paham, tentu tidak semua wartawan yang bertugas di istana sepaham dan mau memahami pemikiran Gus Dur yang sering keluar dari pakem.
Apalagi, dengan alasan menghemat uang rakyat, Gus Dur menjadi tidak "memanjakan" wartawan lagi. Pihak istana tidak menyediakan minum sekali pun untuk wartawan. Padahal, kegiatan Gus Dur selalu full mulai pagi hingga malam dan selalu menarik untuk diberitakan. Untuk meninggalkan istana, wartawan jelas takut, meski untuk sekadar membeli makanan di luar istana.
Sikap tidak memanjakan paling ekstrem adalah ketika Gus Dur mengadakan kunjungan ke luar negeri. Wartawan yang ikut kunjungan hanya diberi tumpangan pesawat. Soal akomodasi (makan dan hotel) menjadi tanggung jawab si wartawan sendiri.
"Dengan mengikutkan wartawannya ke luar negeri, koran (perusahaan media, Red) kan mendapat keuntungan. Masak biaya untuk wartawan harus ditanggung rakyat? Masak rakyat menyubsidi perusahaan yang sudah kaya?" ujar Gus Dur beralasan. Hal itu tentu berbeda dari periode sebelumnya -termasuk periode SBY saat ini- yang semua kebutuhan akomodasi ditanggung istana.
Dengan adanya kebijakan tersebut, akhirnya tidak semua media berani mengikutkan wartawannya ke luar negeri. Sebab, biaya yang dibutuhkan sangat besar. Untuk mengikuti kunjungan ke 13 negara di Asia dan Eropa selama 16 hari pada awal 2000, saya harus membawa uang USD 5 ribu (setara Rp 37,5 juta dengan kurs kala itu Rp 7.500) dari Jawa Pos.
Kebijakan tersebut jelas berdampak sangat serius. Banyak wartawan yang kecewa atas kebijakan itu. Dampaknya, keharmonisan antara Gus Dur dan sebagian wartawan istana pun terganggu. Dampak berikutnya, kesalahpahaman pun (dan acap kali sengaja disalahpahamkan) sering terjadi. Gus Dur pun akhirnya sering mengeluh bahwa pernyataannya sering dipelintir. Namun, Gus Dur tidak punya niat untuk kembali menutup akses wartawan di istana.
Selain membuat regulasi baru untuk wartawan, gebrakan lainnya adalah sikap Gus Dur yang menginginkan istana negara yang dia tempati menjadi istana rakyat. Akibat "regulasi" itu, istana menjadi sangat terbuka kepada siapa pun yang hendak bertemu Gus Dur.
Beberapa kali saya menyaksikan tamu-tamu Gus Dur datang hanya dengan mengenakan sandal jepit dan berpakaian sangat sederhana. Jam kunjungan ke istana juga tidak dibatasi. Karena itu, saat malam pun, istana masih sering didatangi orang-orang yang "aneh-aneh".
Lagi-lagi, perubahan radikal itu juga menimbulkan masalah bagi Gus Dur. Orang yang datang pun menjadi tidak terseleksi. Tentunya, tidak semua orang yang datang punya niat baik.
Terhadap persoalan itu, saya pernah menyampaikan kepada Munif (orang yang selalu menuntun Gus Dur) agar Gus Dur lebih selektif menerima tamu. Namun, ketika usul tersebut disampaikan, Gus Dur malah menjawab, "Jangankan manusia, setan pun kalau mau bertamu, ya... silakan. Kalau orang itu berniat jahat dan terbukti berbuat jahat, biar polisi yang mengusutnya." (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar