Jum'at, 01 Januari 2010
Oleh: Djoko Pitono
''ADA empat misteri Tuhan di dunia ini, yaitu: jodoh, rezeki, umur, dan ... Gus Dur."
Itulah sebuah ungkapan yang melukiskan sikap mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sulit ditebak. Gus Dur, yang wafat Rabu (30/12), adalah politikus dan tokoh masyarakat yang memberikan nuansa baru, bukan saja dari sudut pandang Islam, tetapi juga demokrasi.
Gus Dur menduduki kursi presiden hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Namun, Gus Dur tetap memiliki karakter unik yang berperan besar dalam proses demokratisasi di Indonesia. Semangatnya dalam mengampanyekan inklusivisme, pluralisme, dan toleransi patut diteladani. Energinya yang tak pernah habis untuk menjaga kebersamaan dalam kehidupan yang plural layak kita catat dalam sejarah. Dan humor-humornya selalu mampu memberikan inspirasi.
Humor-humornya bahkan lintas negara dan budaya. Raja Fahd dari Arab Saudi, Presiden AS Bill Clinton, dan Presiden Kuba Fidel Castro pernah dibuat terpingkal-pingkal dengan humor-humornya.
***
Tidak bisa dimungkiri bahwa kepercayaan sebagian loyalis Gus Dur memang sudah luntur. Sebagian lainnya bahkan mungkin sudah tidak lagi memercayai kata-katanya. Namun, siapa pun, rasanya, sulit membantah bahwa pendukung Gus Dur masih cukup banyak. Mereka tidak sekadar mendukung. Sebagian mereka bahkan menghormatinya nyaris sebagai manusia ''setengah wali" atau ''setengah dewa".
Bahkan, ada yang percaya bahwa Gus Dur seperti Nabi Khidir, nabi yang dalam sejumlah kisah dikenal nyleneh. Karena ''kewalian'' itulah, Presiden Soeharto selama bertahun-tahun tak dapat menyingkirkan Gus Dur sebagai pemimpin NU.
Banyak cerita memang yang membuat Gus Dur penuh misteri. Satu di antaranya diungkapkan Choirul Anam, mantan ketua PKB Jawa Timur, sebelum dia berseberangan dengan Gus Dur. Setelah Gus Dur terpilih sebagai presiden RI dalam Sidang MPR pada akhir 1999, Choirul Anam mengungkapkan pertemuannya dengan Gus Dur di ruang kerjanya sekitar Juli tahun itu. Kepada Anam, Gus Dur tiba-tiba berkata, ''Nanti yang jadi presiden itu saya.'' Gus Dur pun melanjutkan, ''Perintahnya datang subuh tadi.''
Anam lalu bertanya siapa sang pemberi perintah itu. ''Gus Dur lalu menyebut nama raja-raja yang sudah meninggal dunia. Dia juga menyebut nama Bung Karno dan KH Hasyim Asyari (pendiri NU yang juga kakek Gus Dur),'' kata Anam menceritakan.
Mantan ketua GP Ansor Jatim itu mengaku ngelu mendengar jawaban Gus Dur tersebut. ''Apa-apaan ini? Ini kan dunia rasional, kok malah dibawa ke sana? Anda boleh percaya boleh tidak, tapi ini informasi beneran,'' ujar Cak Anam.
Namun, ketika tokoh terkemuka NU itu benar-benar terpilih jadi presiden, Anam mengaku bisa merefleksikan wangsit tersebut. Apalagi, katanya, dia melihat tak ada rekayasa dalam kemenangan Gus Dur. ''Gus Dur itu sama sekali dhak ambisi. Tapi, sepertinya jalannya sudah dibuka dari sono-nya,'' katanya.
Anda heran mendengar kisah Anam? Masih ada kesaksian lain yang lebih mengherankan lagi, yang dimuat di kolom di majalah Time, edisi 1 November 1999. Tulisan yang dilengkapi foto lama Gus Dur itu berjudul, His Dream Came True: Now the spiritual leader needs divine guidance to help him rule (Impiannya Jadi Kenyataan: Sekarang pemimpin spiritual itu memerlukan bimbingan Ilahi untuk membantu kekuasaannya). Penulisnya Nico Schulte Nordholt, associate professor antropologi politik di Universitas Twente, Negeri Belanda.
Nordholt menulis, dirinya sudah mendengar pengungkapan Gus Dur akan jadi presiden pada 1982 (benar: 1982). Ceritanya, suatu hari Gus Dur datang ke rumah Nordholt di Jakarta. Dia mengungkapkan impiannya tentang masyarakat Indonesia yang majemuk, toleran, dan demokratis. Keprihatinan utama Gus Dur pada waktu itu adalah emansipasi di kalangan Nahdlatul Ulama, meskipun dia sadar bahwa banyak anggota NU tidak setuju dengan impiannya itu. Tetapi, Gus Dur juga prihatin atas sikap fanatik (bigotry) yang ditunjukkan sebagian penganut Kristen terhadap kaum muslim.
Gus Dur mengharapkan Nordholt bisa mengenalkannya kepada seorang tokoh Kristen yang berpengaruh, T.B. Simatupang. Nordholt diminta menyampaikan pesan bahwa jika orang-orang Kristen menghilangkan sikap arogannya kepada kaum muslim, dia dapat membantu memperbaiki persepsi muslim terhadap orang-orang Kristen. ''Fakta bahwa Wahid berpikir perlu untuk meminta orang asing sebagai perantara menunjukkan betapa terpecahnya masyarakat Indonesia pada waktu itu,'' tulis Nordholt.
Pada hari yang sama, tulis Nordholt pula, dia mendengar bahwa Gus Dur sebelumnya bermimpi di mana dia diberi tahu bahwa dia telah menerima wahyu untuk menjadi presiden Indonesia. ''Tujuh belas tahun kemudian impian itu menjadi kenyataan,'' kata Nordholt.
Masing-masing orang atau media bisa memiliki pelukisan sendiri tentang Gus Dur. Dalam pelukisan Newsweek, Gus Dur adalah Indonesia's magic man, seorang yang diyakini secara luas kalangan nahdliyin memiliki kekuatan supranatural.
Selubung magisme seperti itulah yang tampaknya membuat Gus Dur masih punya banyak pendukung, terutama di masyarakat Jawa. A Javanese who does not believe in magic is not Javanese anymore, kata Adam Schwarz, dalam Far Eastern Economic Review. (*)
*). Djoko Pitono , jurnalis dan editor buku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar