Banjarmasin Post, 28 February 2002
"Gus Dur, Anda butuh bantuan. Anda sedang menghadapi sabotase politik dan dimusuhi media massa. Anda butuh orang yang mampu menjelaskan dan mencerna pikiran Anda supaya orang awam juga mengerti. Anda perlu orang seperti Wimar Witoelar." "Nggak," kata Gus Dur. "Saya nggak butuh orang kayak Wimar. Saya ingin Wimar Witoelar."
ITULAH gaya Gus Dur menanggapi usulan orang sebelum mengangkat pria berambut keribo itu sebagai juru bicara kepresidenan. Ceplas-ceplos, dan tidak dapat diduga orang, sekalipun telah lama bersama-sama dengan kiai dari Ciganjur itu.
Minggu di bulan September 2000, telepon di rumah Wimar berdering. Seorang wartawan menelepon, "Bang Wimar, Anda siap ditunjuk sebagai juru bicara kepresidenan?
"Ah, Anda bercanda. Apa maksud Anda? Saya belum dengar apa pun. Saya tak bisa menanggapi. Saya ingin dengar sendiri beritanya," jawab Wimar.
Tapi dalam hati, deg-degan juga ayah Satya dan Aree itu. Apalagi Wimar merasa tidak ada hubungan dekat dengan Gus Dur. Ia merasa jarang berbicara panjang lebar dengan Ketua Dewan Syuro PKB itu. Kedekatannya mungkin karena ia bersahabat dengan dosen Universitas Deakin, Australia, Greg Barton, serta Yenny Wahid yang bekerja untuk surat kabar Sydney Herald Mor-ning, Australia.
Ia pun berkonsultasi dengan keluarganya. Kepada kakaknya Luki, yang sudah dianggap sebagai penasihat spiritualnya. Tapi tidak kepada Rachmat, karena suka berpikir pragmatis. "Tapi, entah kenapa, kayaknya saya percaya Gus Dur dan dia percaya saya. Ya, sudah, saya bersedia," paparnya.
Toh, Wimar sempat minta ‘petunjuk‘ rekan lamanya, Marsillam Simanjutak —yang juga menjabat Sekretatis Kabinet Gus Dur waktu itu.
Ia pun menanyakan langsung kepada Gus Dur, apakah betul-betul menginginkan dirinya. Jawaban akhirnya diperoleh ketika Wimar diundang khusus pagi-pagi sambil menemani Gus Dur jalan-jalan di lingkungan Istana Negara.
***
"KETIKA saya menerima, saya kira saya mampu untuk menjadi juru bicara Gus Dur. Tapi, kelihatannya hal itu tidak terwujud," ucap ayah Satya dan Aree yang mendampingi Gus Dur kurang lebih 10 bulan.
Masa waktu, yang menurut bos InterMatrix ini begitu mengesankan. Ya, pertama karena ia tidak menduga Gus Dur menjadi Presiden. "Kalau dikatakan kecewa, ya saya kecewa Gus Dur dilengserkan."
Apalagi, ketika Gus Dur lengser bulan Juli 2001, dirinya tengah di luar negeri. Wimar mewakili benua Asia dalam acara yang diselenggarakan New South Wales Centenary of Federation Committee. Saat itu, Indonesia berkeinginan membangun kembali hubungan baik dengan Australia.
Sebelumnya, Wimar juga tidak menyaksikan ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden pada Oktober 1999. Ia berada di New York City, AS. Sama sekali tak diduganya Gus Dur menyisihkan ‘adiknya‘ Megawati Sukarnoputri yang partainya jadi pemenang Pemilu 1999. Wimar sendiri pun sempat ditawari jadi moderator dalam talkshow bersama Megawati, namun ia gagal pulang ke Jakarta.
Namun, selama 10 bulan mendampingi Gus Dur, ia melihat Ketua PB NU itu sebagai seorang renaissance. Banyak orang berharap, ia menjadi tonggak reformasi setelah 32 tahun terbenam di alam Orde Baru yang kurang memberi kebebasan kepada rakyatnya.
Gus Dur, bagi Wimar, adalah orang dimana setiap rakyat dapat berhitung, berkonsultasi dan tempat mempertahankan pluralitas, perbedaan dan toleransi etnis. Lewat Gus Dur, masyarakat bersedia membantu mengamankan gereja dan kelompok minoritas di Indonesia.
Secara intelektual, Gus Dur mampu bercakap dalam lima bahasa, termasuk Jawa. Ketika matanya mulai sembuh, ia membaca novel berbahasa Prancis, Belanda, Jerman, Rusia dan Inggris. Ia hafal isi buku Karl Marx seperti ketika membaca koran.
***
BUKU Wimar yang keempat ini berjudul No Regrets: Reflections of A Presidential Spokesman. "Kalau nanti dikritik habis-habisan, ya saya bisa kapok nulis lagi. Tapi buku ini memang sangat subyektif kok," kata Wimar yang akan menjadi Profesor Tamu bidang Jurnalistik di Universitas Deakin, Geelong, Victoria, Australia selama dua bulan mulai pertengahan Maret.
Kesubyektifan itu, kata Wimar, karena dia melihat, bahwa penggulingan Gus Dur sebagai presiden bukan karena kebencian orang, atau pertentangan ideologi, tapi lebih pada kepentingan politik jangka pendek.
Ini bisa dilihat dari orang-orang yang menginginkan Gus Dur turun itu, sekarang sudah tidak berkoar-koar lagi. "Jadi, saya merasa, telah terjadi pengeroyokan politik terhadap Gus Dur," kata Wimar.
Namun ia merasa bangga, bahwa bekerja bersama Gus Dur —meski tidak didengar, dirinya ikut menyuarakan gerakan moral: memberantas KKN, mengulirkan kebersamaan dalam perbedaan, dan membuka wacana demokrasi untuk segala hal. "Maka, untuk pemerintaha Megawati ini, sebaiknya yang sudah menjabat menteri tidak lagi menjabat. Banyak orang Indonesia yang bisa jadi menteri. Beri kesempatan Mega berkreasi," tambahnya.
Bersama buku Wimar, dari Ballroom Hotel Hilton, Rabu (27/2) kemarin juga diluncurkan buku biografi dari Greg Burton, pengajar pad Fakultas Seni di Universitas Deakin, Australia yang berjudul Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Kedua buku itu diterbitkan oleh Equinox Publishing (Asia) Ptd Ltd.
"Saya menulis buku ini tanpa konsultasi dengan Gus Dur. Dia saja belum baca. Baru tiga orang, penerbit, Greg Barton dan Mbak Yenny Wahid. Mereka suka," imbuh suami Suvatchara ini. (hri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar