Rabu, 06 Januari 2010

Andai Gus Dur Hidup, Pasti Bilang: "Gitu Aja Kok Repot"

OLEH: ARIEF TURATNO

GEGER soal pemberian gelar pahlawan kepada almarhum mantan Presiden ke-4 RI KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang dilontarkan mantan Ketua MPR Amien Rais, terus bergulir. Semua orang ikut berpendapat, dan pendapat itu bersaut-sautan sampai merambah jauh kepada pemberian gelar untuk almarhum mantan Presiden ke-2 RI HM Soeharto. Bahkan, DPR dengan antusias menangkap isu tersebut dan langsung membahasnya. Istana juga tidak kalah sibuknya, konon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tengah mempertimbangkannya. Pertanyaan dan persoalannya, apakah benar gelar pahlawan itulah yang diinginkan seorang Gus Dur?

Jika kita melihat riwayat dan membaca track record Gus Dur, rasanya bukan itulah tujuan utama cucu KH Hasyim Asy’ari dalam hidup ini. Sebab tanpa gelar pahlawan nasional disandangnya pun, Gus Dur sudah menjadi pahlawan untuk semua orang. Bahkan, andaikan Gus Dur hidup kembali, dan kita tanya perlu apa tidak Gus gelar pahlawan untuk Anda? Gus Dur pasti akan menjawab: ”Gitu aja kok repot!”. Ya, kalau pemberian gelar pahlawan merepotkan, mengapa harus diada-adakan? Kalau pemberian gelar pahlawan harus dipolemikkan, mengapa diperlukan?

Bagi keluarga Gus Dur---terutama isteri dan anak-anaknya---rasanya juga tidak begitu peduli dengan gelar itu. Kalaupun ada yang peduli, justeru Amien Rais yang di masa Gus Dur pernah menjadi Presiden pernah berseberangan pemikiran. Dari Amien Rais-lah muncul beberapa kasus, seperti Brunei Gate dan Bulog Gate. Pertanyaannya adalah mengapa Amien Rais membutuhkan isu tersebut? Tentu saja yang tahu Amien Rais sendiri, karena dialah yang menabur isu. Padahal, tanpa Amien tabur pun akan dengan sendirinya persoalan tersebut bergulir. Jadi, sesungguhnya Amien hanya ikut mendorong, bukan pencetus. Karena pencetusnya adalah publik, para santri dan orang-orang yang merasa terbantu oleh kebijakan Almarhum.

Karena itu diberi gelar atau tidak, anak-anak dan isteri Gus Dur, tetap menyayangi Almarhum sampai akhir hayatnya. Begitu pula para santri dan kalangan nahdliyin, rasanya tidak ada yang menghalangi bagi mereka untuk berdoa di pusara Gus Dur, apakah dia seorang pahlawan nasional atau bukan. Sebab, sebagaimana dikemukakan di atas, tanpa gelar pahlawan disandangnya, Gus Dur telah menjadi pahlawan bagi para santri. Dari Gus Dur inilah kaum sarungan belajar beradaptasi dengan kemajuan atau tatanan modern. Dari Gus Dur inilah para santri memiliki pemikiran yang lebih maju dibanding kaum lainnya yang kadangkala merasa lebih modern.

Banyak pemikiran dan wejangan-wejangan supra modern dari Gus Dur yang diberikan kepada para santri. Saking modern dan majunya, kadangkala apa yang dikemukakan Gus Dur kerap menjadi perdebatan sengit. Misalnya, ketika Gus Dur merubah ucapan salam dengan kalimat “Selamat Pagi”, atau “Selamat Siang” dan sebagainya. Bagi umat Khong Hu Cu, dan etnis Tionghoa, Gus Dur adalah pahlawan. Dari Gus Dur inilah perayaan Imlek dapat diselenggarakan secara terbuka. Dari kebijakannya, kelenteng yang semula sepi karena umat Khong Hu Cu “dilarang” melaksanakan ibadahnya, kembali ramai.

Bagi kalangan lain di luar NU dan Muhammadiyah, seperti Ahmadiyah pun Gus Dur dianggap sebagai pahlawan. Karena itu, kematian Gus Dur membuat sebagian besar umat Ahmadiyah ikut bersedih. Karena mereka telah ditinggalkan seorang yang meskipun berbeda pandangan (paham), tetapi mau menghormati paham dan pandangan orang lain. Tidak itu saja, dalam pernyataannya Gus Dur secara terang-terangan membela Ahmadiyah. Dan kita yakin, semua yang dilakukan Gus Dur telah terpateri dalam-dalam di benak kaum lintas agama tersebut. Jadi masih perlukah gelar pahlawan untuk Gus Dur?

Dalam berita di TV pagi ini, keluarga Gus Dur yang diwakili Yenny Wahid dan salah seorang sepupu mantan Presiden tersebut mengatakan bahwa yang mereka inginkan bukan soal gelar pahlawan. Melainkan, jiwa besar seorang Amien Rais dan Akbar Tandjung, agar keduanya meminta maaf atas tindakannya selama ini kepada Almarhum. Karena keluarga Almarhum tidak ingin menanggung beban dosa yang belum tentu dilakukan Gus Dur. Yang mereka tuntut agar keduanya minta maaf adalah soal kasus Bulog Gate dan Brunei Gate. Karena dalam dua kasus tersebut, seperti dikemukakan Yenny Wahid, Almarhum tidak bersalah. Bagaimana dengan Amien Rais dan Akbar Tandjung? Kita tunggu saja jawabannya! (*)

Tidak ada komentar: